Berbicara tentang masalalu, tepatnya dua tahun silam.
Aku pernah mengagumi seseorang tapi awalnya tidak sempat berharap lebih. Namun
semua berubah saat dia mendekat. Ternyata rasa kagum ini berubah jadi cinta
seketika. Cinta yang tak pernah ku tau apa devinisi yang sebenarnya, dan apa
ada cinta sejati itu? Seperti apa wujudnya pun aku tidak memahami. Tapi benar,
rasanya ini adalah getaran cinta yang pertama kali yang belum pernah aku
rasakan sebelumnya. Mungkin cinta masa SMA memang lebih membingungkan.hmm
“aku diam-diam suka kamu, ku coba mendekat ku coba
mendekati hatimu” lagu dari Cherrybelle ini yang pertama aku latunkan saat
melihat dia. Sekarang lebih dikenal cinta pandangan pertama. Hah? Kalian
percaya itu, percaya tentang cinta pandangan pertama? Akusi percaya karena aku
mengalami. Saat itu dia lewat tepat depan kelas, masih ku ingat dia memakai tas
batiknya dan memakai jacket warna abu-abu. Dia tersenyum, ohmaygat hati ini
seakan benar-benar dilumuri bunga-bunga cantik macam syahrini. Oh tidak, oke
ini lebay.
Berlanjut cerita, aku langsung menyakan namanya pada
teman-temanku. Kebetulan disitu ada teman laki-lakiku “ kamu tahu dia siapa? Kelas apa?” tanyaku.
Ohiya mengapa aku menyakan dia kelas apa itu karena kita masih anak baru
disekolah kelas 10 yang masuk tepat setelah MOS. “tidak, tapi sepertinya dia anak yang nakal” jawab temanku dan aku
hanya bisa mematung atas jawabanya. Mengapa dia bisa cepat menyimpulkan begitu,
pikirku melayang-melayang jadinya.
Singkat cerita, tanpa ku tahu dia menghubungiku
melalui pesan singkat. Aku masih ingat,
tiap malam minggu dia slalu mengirimkan bom messege yang membuat ku heran apa
motivasinya. Tapi lucu saja rasanya melihat tingkahnya seperti itu. Hingga
akhirnya waktu itu datang, waktu saat dia mengungkapkan rasa dan memintaku
untuk menjadi kekasihnya. Bisa kalian bayangkan bagaimana bahagianya aku saat
itu? Sempurna, hidupku merasa amat sangat sempurna karenyanya.
Dia salah satu pria yang dingin, termasuk terhadap aku
kekasihnya. Mengabari aku yang berperan sebagai kekasihnya pun itu bukan
rutinitasnya. Dia terlalu sibuk dengan dunianya, iya memang dia seorang gamers.
Aku harus sabar saat dia bersikap dingin, aku harus ikhlas kena marah olehnya
hanya karena dia yang sedang mempunyai masalah, aku harus rela nunggu kabar
darinya saat dia sedang asik bersama dunianya. Bertemu disekolah tidak pernah
saling sapa. Sakit rasanya amat sangat sakit, tapi entah hati tidak pernah mau
menyerah.
Banyak yang mengatakan “ kamu bisa sayang sama orang
kaya gitu? Apa yang kamu lihat dari dia?” jangan, jangan terus lontarkan
pertanyaan seperti itu yang aku sendiri pun tidak pernah tau apa alasan aku
sangat menyanyangi pria yang tidak pernah menghargai aku sebagai kekasihnya.
Dia bisa sedekat nadi saat bersama temen-temannya, tapi aku dia jdadikan
matahari yang sangat jauh dari pandangannya.
Hubungan kami pun tidak berlangsung lama, saat itu
tepat setelah ulang tahunnya yang ke 16th aku memilih pergi, tapi sebenarnya
tidak ingin. Sungguh aku tidak ingin kita yang sudah jauh jadi semakin jauh
hanya karena perpisahan ini. Tapi aku berhak menuntut petrjuangan jika dia
memang benar mencintaiku juga bukan? Iya aku hanya ingin diperjuangkan layak
nya aku adalah sesuatu yang paling berharga untuknya. Aku menunggu dan terus
menunggu, tapi dia tidak pernah kunjung datang untuk melakukan keinginanku.
Tuhan aku harus bagaimana? Apa ini tandanya aku harus
menyerah? Lalu bagaimana nasib cintaku? Jerit tangisku pecah seketika. Lemas
rasanya tubuh ini, kehilangan seseorang yang sangat diharapkan namun tak
kunjung datang. Untuk menengok saja, mungkin tak sudi. Ku ceritakan segala
keluh kesahku pada tuhan di sepertiga malam yang ku kerjakan. Tangisku tumpah
tak terkendali. Ku istikharah juga dia pada tuhanku. Kupinta gambaran siap yang
terbaik dalam hidupku. Tiap saat aku tak
pernah lupa, gambaran demi gambaran muncul dalam mimpi itu. Dan, dia.
Gambaran dari sekian banyaknya iskharahku, mengapa
harus slalu dia yang tertuju dalam mimpi itu. Dan tuhan hanya memberku gambaran
tanpa aku tahu apa kepastian dan maksud dari gambaran itu. Dalam sujudku juga
slalu ku sempatkan menyelipkan nama dia setelah ku panjatkan doa untuk kedua
orangtuaku. Itu adalah rutinitasku setelah kejauhannya kita. Namun kadang aku
merasa lelah, ku hentikan doaku untuknya. Tapi aku salah, mulutku yang berhenti
tapi tidak dengan hatiku. Hatiku tak pernah lelah berdoa menyebut namanya di
dalam sudut sanah. Berdoa untuk kepulangan dia pada hati ini. Hati yang amat
sangat kosong saat kepergiannya.
Aku juga slalu mecoba memalingkan hatiku pada yang
lebih menghargai, namun ternyata hanya raga yang sanggup karena jiwaku
lagi-lagi menolak. Entah berapa banyak orang yang terluka karena hanya karena
aku yang tidak bisa memalingkan hatiku ini. Tuhan aku menunggu jawabanmu.
Jawaban tentang perasaan ini, yang
setelah kusimpan lamanya pun ternyata masih tetap sama, tidak ada yang berubah.
Cintaku masih milik dia, dan sikap dinginnya tidak pernah meluluhkan perasaan
ini untuknya. Yang berubah hanya kenyataan, kenyataan yang saat ini dia tlah
berbahagia bersama perempuan pilihannya.
Aku merasa amat terpukul saat itu, bagaimana tidak?
Mengapa dia pilih tanggal 25. 25 adalah tanggal dimana aku dilahirkan,
seharusnya saat bertemu tanggal 25, tanggal 25 membuatku bahagia tapi saat ini
malah rasa sedih karena aku mengingat dia di sana. Dia juga tidak pernah
mengucapkan selamat saat aku ulangtahun. Mungkin dia hanya mengingat 25 adalah
anniversary bukan ulangtahun ku. Sakit, benar ini memang sakit tapi ini kenyataan,
kenyataan yang harus ku terima dan jalani. Aku harus ikhlas tuhan.
Terkadang aku rindu, rindu dia. Tapi kadang juga aku
heran, apa yang kurindukan darinya? Bukankah dia hanya memberikan kenangan
luka? Bukan bahagia? Tidak, buatku sempat memilikinya pun itu adalah bahagia
yang luar biasa. Aku tak butuh penghargaan, cukup dia merasakan dan dia
mengetahui semuanya. Meski pun aku bukan jadi pilihannya, setidaknya dia tahu
bagaimana aku mencintainya
Sebarapa pun banyaknya luka yang aku terima, tapi
perasaan ini tidak pernah hilang. Bahkan malah makin tumbuh di sini, di dalam
hati. Aku slalu ingin bertanya pada tuhan, mengapa perasaan ini masih
tertahankan di hatiku? Entah sampai kapan aku harus terus bertanya tapi tak
pernah kutemui jawabannya. Aku hanya dapat menunggu tuhan, menunggu semua yang
ku percaya indah pada waktunya itu. Aku merindukan dia, dia yang sampai saat
ini menjadi penguasa hati. Andai, aku hanya bisa berandai dengan segala lamunanku.
Iin Khurotul'aen
ig: iquen25;
email: iinkhurotulaen98@yahoo.com;
blog: iinaen25.blogspot.com
Iin Khurotul'aen
ig: iquen25;
email: iinkhurotulaen98@yahoo.com;
blog: iinaen25.blogspot.com

No comments:
Post a Comment