Hari itu ada pisau yang menancap  dalam dan membuat ku kaku tidak bisa bergerak, yang ada hanya rasa perih, ngilu dan sakitnya saja yang entah wujudnya seperti apa. Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi sebenarnya pada diriku. Yang kutau, ini melemahkan ku. Pikirlah bagaimana cinta yang datang dengan seikat ketulusan, harus pulang dengan berikat-ikat kekecewaan.
 
Ku cubit pipiku dengan kasarnya, “aw” jeritku keras. Kukira ini sebuah mimpi, mimpi yang berwujud buruk. Namun nyatanya tidak, ini kenyataan. Aku memang sedang hidup dalam sebuah kenyataan, bukan hidup dalam mimpi yang bisa aku coba sadar dan terbangun kala aku merasa sangat lemah karena mimpi itu. Tapi tidak ini kenyataan, kenyataan yang harus ku jalani dan ku lalui dengan berlapang dada.

Pengkhianatan kembali datang, saat kepercayaan mulai tumbuh. Mati, rasanya mati hati  dan perasaan ini. Semua pudar berganti kecewa, hanya sesak yang terasa. Saat kulihat wujudnya bersama yang lain, itu nyata kau melakukannya di belakangku.  Saat kau kujadikan prioritas, saat kau ku jadikan pilihan, saat ku coba tidak membagi rasa yang ada, tapi aku kau jadikan sampah yang tidak ada artinya.

Benci, ingin menendam tapi aku tau itu tidak baik. Cukup lah ku tau semuanya dengan diam. Bersikap seolah aku tidak tahu apa-apa. Aku hanya mampu mendoakan kau dihadapan tuhan. Sadarkan engkau, semoga tuhan cepat bukakan hatimu bahwa perlakuanmu itu sungguh menghinakan dirimu sendiri. Karena yang ku tahu kau yang sering mengucap kata cinta yang rasanya manis, namun nyatanya kau beri kenyataan yang pahit.

Ku tunggu kejatuhanmu lebih dari aku terjatuh dulu, kau hanya harus mengerti roda kehidupan ini slalu berputar. Boleh jadi saat hari itu aku terluka, nantinya kau yang akan terluka lebih dalam dari apa yang aku rasa. Dengarlah, ku ikhlaskan perlakuanmu terhadapku. Beribu tusukan pisau menyayat hati ini tanpa kau tau. Air mata terjatuh tanpa mengingat waktu, tempat dan kondisi. Ku yakini semua itu akan kau rasakan nanti.

Aku tidak mendoakan untuk keburukanmu, tapi aku hanya percaya tuhan ku adil dalam mengambil keputusan. Ku paksa rasa ini terhenti  meski aku sangat mendambakanmu. Ku ambil hikmah dari setiap kenyataan pahit ini, jika nanti ku temui kembali cinta, aku akan jauh lebih hati-hati. Berjalanlah dengan tenang, tanpa harus perdulikan hatiku lagi. Ku tau, keputusanmu telah jadi kehendak tuhanku, biarlah aku yang terluka sekarang.



Iin Khurotul'aen
ig: iquen25; 
email: iinkhurotulaen98@yahoo.com; 
blog: iinaen25.blogspot.com

Kenyataan pahit dibalik pengkhianatan - Iin Khurotul'aen



Hari itu ada pisau yang menancap  dalam dan membuat ku kaku tidak bisa bergerak, yang ada hanya rasa perih, ngilu dan sakitnya saja yang entah wujudnya seperti apa. Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi sebenarnya pada diriku. Yang kutau, ini melemahkan ku. Pikirlah bagaimana cinta yang datang dengan seikat ketulusan, harus pulang dengan berikat-ikat kekecewaan.
 
Ku cubit pipiku dengan kasarnya, “aw” jeritku keras. Kukira ini sebuah mimpi, mimpi yang berwujud buruk. Namun nyatanya tidak, ini kenyataan. Aku memang sedang hidup dalam sebuah kenyataan, bukan hidup dalam mimpi yang bisa aku coba sadar dan terbangun kala aku merasa sangat lemah karena mimpi itu. Tapi tidak ini kenyataan, kenyataan yang harus ku jalani dan ku lalui dengan berlapang dada.

Pengkhianatan kembali datang, saat kepercayaan mulai tumbuh. Mati, rasanya mati hati  dan perasaan ini. Semua pudar berganti kecewa, hanya sesak yang terasa. Saat kulihat wujudnya bersama yang lain, itu nyata kau melakukannya di belakangku.  Saat kau kujadikan prioritas, saat kau ku jadikan pilihan, saat ku coba tidak membagi rasa yang ada, tapi aku kau jadikan sampah yang tidak ada artinya.

Benci, ingin menendam tapi aku tau itu tidak baik. Cukup lah ku tau semuanya dengan diam. Bersikap seolah aku tidak tahu apa-apa. Aku hanya mampu mendoakan kau dihadapan tuhan. Sadarkan engkau, semoga tuhan cepat bukakan hatimu bahwa perlakuanmu itu sungguh menghinakan dirimu sendiri. Karena yang ku tahu kau yang sering mengucap kata cinta yang rasanya manis, namun nyatanya kau beri kenyataan yang pahit.

Ku tunggu kejatuhanmu lebih dari aku terjatuh dulu, kau hanya harus mengerti roda kehidupan ini slalu berputar. Boleh jadi saat hari itu aku terluka, nantinya kau yang akan terluka lebih dalam dari apa yang aku rasa. Dengarlah, ku ikhlaskan perlakuanmu terhadapku. Beribu tusukan pisau menyayat hati ini tanpa kau tau. Air mata terjatuh tanpa mengingat waktu, tempat dan kondisi. Ku yakini semua itu akan kau rasakan nanti.

Aku tidak mendoakan untuk keburukanmu, tapi aku hanya percaya tuhan ku adil dalam mengambil keputusan. Ku paksa rasa ini terhenti  meski aku sangat mendambakanmu. Ku ambil hikmah dari setiap kenyataan pahit ini, jika nanti ku temui kembali cinta, aku akan jauh lebih hati-hati. Berjalanlah dengan tenang, tanpa harus perdulikan hatiku lagi. Ku tau, keputusanmu telah jadi kehendak tuhanku, biarlah aku yang terluka sekarang.



Iin Khurotul'aen
ig: iquen25; 
email: iinkhurotulaen98@yahoo.com; 
blog: iinaen25.blogspot.com

No comments:

Post a Comment