Ketika aku duduk terdiam di sudut ruang tamu, memandang matahari di ufuk barat yang mulai gelap, di sudut ruang itu selalu terbayang-bayang wajahmu yang selalu duduk di sofa. Memandangku sembari tersenyum, Ketika aku menunggu pesan singkatmu di sore hari, pesan singkat yang sangat membuatku bahagia.

Pesan singkat yang lagi-lagi selalu ku tunggu, isi pesan itu "sayang aku on the way ke rumah". Aku selalu menunggu pesan singkat itu, iya pesan yang sekejap membuatku bahagia, ketika matahari mulai tenggelam di ufuk barat, lagi-lagi aku menunggu pesan singkatmu yang ke dua yang berisi "sayang aku sudah di depan rumah".

Ketika aku membaca pesan singkat itu, aku segera keluar menyambutmu di teras rumah mempersilahkan kamu masuk, membuatkan segelas teh untukmu, untuk menghilangkan rasa hausmu karna perjalanan yang cukup jauh. Ketika semuanya yang aku tunggu itu tidak ada hasilnya, aku bertanya pada diriku, kamu kmna? Apa kamu lupa jalan rumahku? Tak mungkin rasanya, atau mungkin kamu lupa denganku?

Sontak aku terbangun dari semua khanyalan itu, seperti orang sudah tak waras, mengharapkan kedatangan seorang pangeran yang tidak akan pernah datang lagi, pesan singkat di ponsel, di sudut ruang tamu itu, dan matahari di ufuk barat yang mulai tenggelam, telah menyadarkan ku bahwa semuanya tidak akan pernah seperti dulu lagi.

Dinda Safitri 
ig: dindaputriediapolo; 
blog:dindasafitri3135.blogspot.com; 
email:dindasafitri3135@gmail.com

Ketika Aku - Dinda Safitri

Ketika aku duduk terdiam di sudut ruang tamu, memandang matahari di ufuk barat yang mulai gelap, di sudut ruang itu selalu terbayang-bayang wajahmu yang selalu duduk di sofa. Memandangku sembari tersenyum, Ketika aku menunggu pesan singkatmu di sore hari, pesan singkat yang sangat membuatku bahagia.

Pesan singkat yang lagi-lagi selalu ku tunggu, isi pesan itu "sayang aku on the way ke rumah". Aku selalu menunggu pesan singkat itu, iya pesan yang sekejap membuatku bahagia, ketika matahari mulai tenggelam di ufuk barat, lagi-lagi aku menunggu pesan singkatmu yang ke dua yang berisi "sayang aku sudah di depan rumah".

Ketika aku membaca pesan singkat itu, aku segera keluar menyambutmu di teras rumah mempersilahkan kamu masuk, membuatkan segelas teh untukmu, untuk menghilangkan rasa hausmu karna perjalanan yang cukup jauh. Ketika semuanya yang aku tunggu itu tidak ada hasilnya, aku bertanya pada diriku, kamu kmna? Apa kamu lupa jalan rumahku? Tak mungkin rasanya, atau mungkin kamu lupa denganku?

Sontak aku terbangun dari semua khanyalan itu, seperti orang sudah tak waras, mengharapkan kedatangan seorang pangeran yang tidak akan pernah datang lagi, pesan singkat di ponsel, di sudut ruang tamu itu, dan matahari di ufuk barat yang mulai tenggelam, telah menyadarkan ku bahwa semuanya tidak akan pernah seperti dulu lagi.

Dinda Safitri 
ig: dindaputriediapolo; 
blog:dindasafitri3135.blogspot.com; 
email:dindasafitri3135@gmail.com

No comments:

Post a Comment